Pasti anda pernah mendengar pernyataan,
"Biar pun udah kenyang, tapi kalau belum makan nasi serasa belum
makan". Masyarakat Indonesia selama ini sudah dimanjakan
dengan keberadaan makanan yang satu ini. Keberadaan nasi di zaman sekarang ini
sudah sebagai kebutuhan yang harus terpenuhi. Namun tahukah anda, bahwa
ternyata mengonsumsi nasi putih dapat berisiko terkena diabetes tipe dua. Diabates
tipe dua menyerang usia 35 tahun ke atas atau disebut adult onset dan kebanyakan menyerang orang-orang yang berpostur
besar yang dikategorikan over weight
ataupun obesitas.
Penelitian mengenai
efek mengonsumsi nasi putih telah dilakukan oleh tim peneliti dari Harvard
School of Public Health. Qi Sun yang termasuk kedalam salah seorang peneliti mengatakan
bahwa nasi putih dapat meningkatkan risiko diabetes tipe dua, dan risiko ini
cenderung menyerang orang-orang yang mengonsumsi nasi putih secara terus-menerus
seperti orang Asia. Namun pola makan yang tidak baik juga dapat menyebabkan
diabetes tipe dua.
Berdasarkan penelitian
yang melibatkan 350.000 orang yang diterbitkan dalam British Medical Journal, Sun
dan timnya telah melakukan empat review analisis yang sudah dipublikasikan,
empat studi tersebut dilakukan di Cina, Jepang, Australia, dan Amerika Serikat.
Orang Asia dianggap
sebagai orang yang berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2. Hal ini di
karenakan orang Asia lebih cenderung mengonsumsi nasi lebih banyak daripada
orang Barat. Orang Asia rata-rata mengonsumsi nasi tiga sampai empat porsi
sehari, sedangkan orang Barat hanya satu sampai dua porsi seminggu.
Di dalam nasi putih
terkandung indeks glikemik yang relatif tinggi sehingga dapat meningkatkan
kadar gula darah dalam tubuh. Namun ada alternatif lain yang bisa digunakan
untuk mengganti kebiasaan mengonsumsi nasi putih, yaitu beras merah. Beras merah
mengandung banyak zat penting seperti vitamin, serat alami, dan mineral.
Sesuatu yang sudah
menjadi kebiasaan memang sulit untuk diubah secara langsung namun cobalah untuk merubah kebiasaan
tersebut secara perlahan. Beralih kepada makanan yang lebih menyehatkan. Ingat,
mencegah lebih baik daripada mengobati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar