Selasa, 15 November 2011

Autobiografiku

This is My Autobiografi..
  Namaku Novri Yanti Sitompul, aku lahir di Medan, 25 Oktober 1993. Aku dibesarkan oleh kedua orang tuaku. Dari seorang ayah yang bernama J. Sitompul dan seorang ibu yang bernama T. Nababan. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, aku satu-satunya anak perempuan di keluarga ku. Tahun 1996 ibuku melahirkan seorang putra yang diberi nama Leo Nardo Sitompul dan empat tahun kemudian tepatnya pada tahun 2000 ibuku kembali melahirkan seorang putra yang diberi nama Roberto Sitompul. Kami hidup dikeluarga yang sederhana dan bahagia.

  Di umurku yang kelima, aku sudah menjadi siswi TK di dekat rumahku. Harapan Ibu, itulah nama TKnya. Ketika pulang sekolah, aku selalu di jemput oleh ibuku, aku ingat, aku sering meminta ibuku untuk membelikanku ice cream sewaktu pulang, kadang dibelikan, terkadang juga tidak.

  Beranjak pada tingkat selanjutnya, yaitu SD. Aku bersekolah di salah satu perguruan swasta di Medan. Namanya YP. Sultan Iskandar Muda. Ayahku selalu mengantarku kesekolah. Aku mulai belajar naik kendaraan umum sewaktu kelas tiga SD. Sebelumnya aku di jemput oleh bis sekolah yang bertepatan pemiliknya berada di dekat rumahku. Namun hanya bertahan satu tahun saja, aku naik kendaraan umum, dari kelas empat hingga kelas enam, orang tuaku menggunakan jasa ojek antar jemput untuk mengantar dan menjemputku dari sekolah. Aku tau, itu termasuk salah satu cara orang tuaku untuk menjagaku. Banyak teman yang kudapat sewaktu SD, bahkan sahabatku sudah kukenal sejak SD.
  Lulus SD, ku lanjutkan sekolahku ketingkat selanjutnya yaitu SMP. Aku masih berada di sekolah yang sama ketika aku SD, aku tidak lulus testing masuk SMP negeri, karena itu orang tuaku tetap memasukkan ku kesekolah yang sama. Aku mendapat teman-teman baru, mereka cukup terbuka untuk menerimaku sebagai temannya. Di SMP aku mendapatkan teman akrab, kami terdiri dari empat orang, kemana-mana selalu bersama. Selisih paham sering terjadi di antara kami, tapi untungnya tidak berlangsung lama. Kami bisa kembali berbaur seperti biasanya

  Kumpul-kumpul sepulang sekolah sering kami lakukan, kadang di kantin sekolah, kadang di rumah teman, tentunya sudah seizin orang tua kami masing-masing. Sewaktu kelas tiga, kami sering bercerita akan melanjut kemana. Ada yang bilang akan masuk SMK, ada yang bilang SMA, sesuai keinginan masing-masing. Tapi kenyataan berbeda dengan harapan, semua bertolak belakang, yang berharap ingin masuk SMK justru menjadi siwi SMA, yang berharap menjadi siswi SMA menjadi siswi SMK, salah satunya aku. Aku mengalami hal seperti itu, aku menjadi siswi SMA walau aku berharap menjadi siswi SMK. Banyak hal yang membuat itu semua jadi berubah dari keinginan hati, salah satunya orang tua. Kami menghormati keputusan mereka. Dan memang tidak ada buruknya sama sekali.

  Setelah lulus dari SMP, aku menjadi siswi SMA, aku masih di sekolah yang sama dengan sekolahku pada waktu SD dan SMP. Teman-teman ku mengatakanku sebagai murid abadi. Murid yang akan menghabiskan jenjang pendidikannya selama dua belas tahun di te,pat yang sama. Aku tidak bias mengelak dari pendapat mereka, karena memang itulah kenyataannya. Aku tidak mempermasalahkan perkataan merka yang mengatakan aku sebagai murid abadi. Aku justru bangga. Awal masuk sekolah aku berada di kelas yang paling akhir, maksudnya kelas yang menampung siswa-siswi yang mendaftarkan dirinya pada hari-hari terakhir pendaftaran. Seminggu kemudian, ternyata sekolah membuat kebijakan untuk membentuk kelas plus, yaitu kelas-kelas yang berisi orang-orang yang cukup pintar, tentunya masuk ke kelas itu melalui testing. Aku tidak lulus testing itu. Sungguh menyedihkan. Aku pun masuk ke kelas regular, di kelas ku aku menemukan banyak teman. Teman yang cukup baik/. Setelah beberapa bulan pertemuan di kelas, aku baru tahu kalau akan ada pembagian kelas plus kembali seiring pembagian jurusan nanti. Aku giat belajar untuk bias masuk kekelas itu.

  Hari pembagian jurusan pun tiba, aku memilih jurusan ipa. Aku benar-benar berharap bisa masuk ke jurusan itu dan tentunya lebih berharap masuk ke jurusan dan kelas plus. Ketika naik-naikan, aku cukup deg-degan menunggu hasilnya, apakah aku masuk di jurusan yang kumau atau tidak. Ternyata dihari pembagian rapor itu aku tidak tahu apakah aku masuk kelas unggulan atau tidak, tapi yang ku tau pasti adalah aku masuk jurusan yang ku mau, yaitu jurasan ipa. Aku sangat senang sekali. Penguman untuk mengetahui apakah masuk kekelas ungulan atau tidak akan di umumkan pada waktu liburan. Aku benar-benar berharap untuk bisa masuk ke kelas unggulan itu.


  Hari pengumuman pun tiba, rasanya aku tidak berani kesekolah untuk melihat pengumuman itu, tapi kubulatkan tekat ku untuk dating dan dengan pengharapan yang optimis. Aku melihat madding sesampainya disana. Dan ternyata aku masuk. Aku senang sekali, harapan ku selama ini akhirnya terwujud juga. Saat masuk ke kelas yang baru aku sangat bersemangat sekali, berjumpa dengan teman-teman yang baru juga. Aku berharap kelasku menjadi kelas yang kompak.
 

 Ternyata harapan memang tinggallah harapan, pertemanan tidaklah sesuai dengan yang diinginkan. Masih mementingkan ego masing-masing. Tidak ada yang mengalah. Masuk kelas penuh dengan cerita-cerita yang kurang baik. Sungguh pertemanan yang aneh menurutku, tapi kami tetap diam. Seperti rahasia umum, berjumpa didepan dengan senyum yang indah, tetapi di belakang kabar kurang sedap sering dilontarkan. Untungnya hal seperti ini tidak terlalu berlangsung hingga kami kelas tiga. Kebiasaan buruk itu hanya terjadi di kelas dua saja. Keakraban mulai terjalin erat di kelas tiga. Walau masih ada sedikit sifat buruk yang masih belum bias di hilangkan, tetapi paling tidak sudah jauh berkurang dari sebelumnya.
  
Di kelas tiga semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing, tapi yang paling jelas adalah kami tidak punya waktu lagi untuk bermain-main. Semua sudah focus terhadap UN dan SNMPTN. Semua mencari tempat bimbel yang terbaik. Pulang malam haripun sudah menjadi kebiasaan di kelas tiga. Itu semua kami lakukan untuk bias lulus UN dan masuk PTN.

  Ujian Nasional memang tidak mungkin terelakkan. Kami menghadapi ujian dengan percaya diri akan kemampuan masing-masing. Hasilnya sangat memuaskan. Kami semua lulus. Kebahagiaan pun terpancar dari raut muka kami semua. Tapi ujian yang sebenarnya akan segera dimulai setelah berakhirya ujian nasional itu, yaitu SNMPTN. Teman-temanku sudah berusaha keras hingga mencapai titik seperti ini. Bahkan ada yang mengatakan,”masa depanku bergantung pada ujian kali ini”. Jika di pikir-pikir hal itu memang ada benarnya juga. Nama sekolah dan orang tua akan di pertaruhakan untuk ini.

   Ujian SNMPTN pun tiba. Ujian yang berlangsung kelama dua hari itu akan terlihat sulit jika benar-benar ridak memahami materi yang telah di pelajari selama ini. Aku termasuk diantaranya. Aku cukup kecewa dengan kemampuanku sendiri. Tapi ujian telah selesai. Yang ada hanya tinggal penyesalan. Sebulan kemudian pengumuman pun tiba. Ternyata aku dinyatakan lulus di Universitas Negeri Medan dengan jurusan Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia. Rasa senang dan kecewa menghampiri diriku, senang karena aku lulus, kecewa karena aku lulus di pilihan yang ketiga. Tapi ku bulatkan tekatku untuk menerima ini semua. Sekarang aku sudah menjadi mahasisiwi di Unimed dengan prodi Pend. Bahasa Indonesia. Aku harap aku bias mengikuti pelajaran yang diberikan dosen kepada ku hingga aku tamat nati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar